Kamis, 21 Juni 2012

USAHA ABON IKAN


PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
Profil Usaha Abon ikan
Sejumlah wilayah di Indonesia yang telah mengembangkan agroindustri abon ikan adalah
Jawa Barat (Sukabumi, Indramayu dan Ciamis), DKI Jakarta, Jawa Tengah (Semarang dan Cilacap),
Bali (Jembrana), Kalimantan Tengah (Buntok dan Barito Selatan), dan Jambi (Tanjung Jabung
Timur).1 Pada umunya, pola pengolahan abon ikan tersebut didominasi oleh pengolahan
tradisional dan bersifat industri rumah tangga (sekitar 68 %).2
Salah satu sentra usaha pengolahan abon ikan yang telah berkembang sejak awal dekade
1990an adalah sentra usaha pengolahan abon ikan yang ada di Kabupaten Sukabumi, tepatnya di
Desa Cikahuripan, Kecamatan Cisolok Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Sampai
saat ini, wilayah tersebut terdapat dua produsen abon ikan berskala kecil dengan penggunaan
teknologi, semi-mekanis. Secara garis besar, peralatan yang digunakan relatif masih sederhana.
Pemakaian peralatan semi-mekanis hanya untuk proses penggilingan, pemarutan dan pengepresan
yaitu berupa : mesin giling, mesin parutan, dan mesin pengepres. Pada umumnya, unit-unit usaha
abon ikan di sentra-sentra agroindustri sejenis memang berskala kecil dengan karakteristik yang
hampir sama.
Produsen abon ikan di Cisolok Kabupaten Sukabumi di atas, berbentuk Kelompok Usaha
Bersama (KUB) dan beranggotakan ibu-ibu rumahtangga yang bertempat tinggal di sekitar lokasi
unit usaha. Pendirian unit usaha abon ikan di wilayah ini diawali dengan pelaksanaan pelatihan
pembuatan abon ikan pada tahun 1988 melalui Dinas Perindustrian Kabupaten Sukabumi.
Perkembangan selanjutnya, kedua KUB tersebut dibina juga oleh sejumlah instansi di Kabupaten
Sukabumi, seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Koperasi dan UKM, serta Dinas Kesehatan.

ASPEK PRODUKSI
Aspek produksi ini akan menjelaskan mengenai lokasi usaha, fasilitas produksi dan
peralatan, bahan baku, tenaga kerja, teknologi, proses produksi, jenis dan mutu produksi, produksi
optimum, serta kendala produksi.
3.1. Lokasi Usaha
Tahap penting dalam memulai suatu usaha adalah pemilihan lokasi tempat usaha akan
didirikan. Pertimbangan penetapan lokasi usaha didasarkan pada faktor kedekatan letak dari
sumber bahan baku, akses pasar terhadap produk yang dihasilkan, ketersediaan tenaga kerja, air
bersih, sarana transportasi dan telekomunikasi.
Lokasi Usaha
Lokasi usaha pengolahan produk ikan sebaiknya terdapat di daerah-daerah yang dekat
kawasan-kawasan kerja pelabuhan perikanan, terutama Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Kondisi
tersebut akan mempermudah proses penyediaan bahan baku ikan, mengingat sifat ikan yang
mudah rusak, serta bisa mengurangi biaya transportasi dalam penyediaan bahan baku.

Jenis dan Mutu Produksi
Jenis produk yang dihasilkan adalah abon ikan yang dijual dalam kemasan 100 gram (60
persen) dan kemasan 250 gram (40 persen).
Kendala Produksi
Kendala produksi yang sangat dirasakan oleh pengusaha abon ikan adalah kontinuitas
penyediaan bahan baku. Meskipun bahan baku yaitu ikan Marlin dapat didatangkan dari TPI yang
lain, tetapi mengingat sifat bahan baku yang mudah busuk dan persyaratan produksi dengan
bahan baku yang segar, dapat berpotensi pada penurunan kualitas. Untuk mengatasi hal ini,
seyogyanya produsen abon ikan melakukan pemesanan terlebih dahulu kepada nelayan pemasok
langganan di TPI-TPI di sekitarnya, minimal satu minggu sebelum proses produksi dilakukan.
Kendala Pemasaran
Konsumen abon ikan sering mengeluhkan tentang ketidaktersediaan produk di pasaran.
Sejumlah konsumen juga menginginkan abon ikan dengan rasa manis-pedas, tekstur halus dengan
aroma tidak terlalu khas ikan, tekstur halus, kemasan dalam toples, dan lain-lain (Wijaya, 2007).
Lebih lanjut Wjaya (2007) menyatakan bahwa terkait dengan keinginan konsumen
tersebut, kedua produsen Cisolok Sukabumi hanya memproduksi satu jenis rasa, yaitu rasa manis
dengan kemasan plastik berukuran 100 gram dan 250 gram. Sedangkan dari sisi tekstur abon,
terkadang abon ikan yang dihasilkan tersebut bertekstur halus dan terkadang kasar (produk tidak
standar). Hal ini tentu berbeda dengan umumnya produk abon dari daging, seperti abon sapi,
yang telah mempunyai berbagai variasi rasa, warna dan kemasan sesuai dengan preferensi
konsumen. Kondisi ini menjadi salah satu kendala terhambatnya pemasaran produk abon ikan.





DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, E. Dan Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Karyono dan Wachid. 1982. Petunjuk Praktek Penanganan dan Pengolahan Ikan. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.
Mukti, Ade T.D. 2001. Analisis Harga Pokok Produksi dan Titik Impas Produk Abon Ikan di
Kecamatan Cisolok, Kabupaten Suakbumi, Jawa Barat. Skripsi pada Program Studi
Sosial Ekonomi Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, IPB (tidak diterbitkan).
Bogor.
Suryati, Yati dan Iwan Dirwana. 2007. Produksi Hasil Olahan Hurip Mandiri Cisolok (Abon Ikan,
Dendeng Ikan dan Kerupuk Ikan) Kabupaten Sukabumi. Koperasi Kelompok Usaha
Bersama Hurip Mandiri. Sukabumi.
Wijaya, Apip. 2007. Analisis Preferensi Konsumen Terhadap Pengembangan Produk Abon Ikan
Kelompok Usaha Bersama (KUB) Hurip Mandiri (Kasus Konsumen Abon Ikan di
Kabupaten Sukabumi). Skripsi pada Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis,
Fakultas Pertanian, IPB (tidak diterbitkan). Bogor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar